Jepang bagian Selatan dalam 14 hari part 1 (Kyoto-Osaka-Nara-Kobe)

Negara Jepang pastinya jadi salah satu destinasi liburan bagi masyarakat Indonesia, terutama pecinta Anime, Manga, Kuliner dan Alam. Disana surganya udara bersih dengan pemandangan alam yang terawat ditambah kuliner lezat pastinya menambah nilai plus.

Setelah penantian panjang, akhirnya kami berkesempatan untuk berkunjung ke Jepang. Kenapa disebut penantian panjang? Hmm… (tarik napas dalam).. Karena setelah insiden ketinggalan pesawat awal tahun 2014 lalu yang cukup menyakitkan, kesampaian juga ke Jepang..yeayy…

TIKET PESAWAT

Sekitar bulan November 2015 suami iseng – iseng melihat ada promo di web airasia, dengan semangatnya dia menelpon saya “ada promo ke KIX murah loh, mau gak?”. Saya yang sedang di workshop agak bingung juga ditanya seperti itu tapi berhubung katanya “murah” ya saya iyakan saja. Dan akhirnya tiket dipesan untuk Oktober 2016, totalnya hanya IDR 5.750.000 untuk tiket PP 2 orang Jakarta – Kuala Lumpur – Kansai International Airport (termasuk Tune insurance dan bagasi KIX-CGK 20kg).

PERSIAPAN

Berhubung waktu keberangkatan masih lama jadi santai – santai, terlebih dengan trauma gak jadi berangkat itu (Tiket pesawat, Hotel booking fee, biaya visa, dll melayang) bikin kami gak lebay . Visa diurus kurang dari 1 bulan keberangkatan, kok bisa? Tadinya kami mau mengurus via Travel Agent seperti visa Cina supaya gak repot, tapi setelah kami ke salah satu agent di Margo City kesan pertama dicuekin, nanya tidak direspon dan akhirnya sampai kesel sendiri karena persyaratannya lebih ribet daripada urus sendiri. Persyaratan mengurus Visa sendiri ke Kedubes Jepang gampang kok, Lebih jelasnya silakan lihat disini.

Hanya 3 hari kerja pembuatan visa selesai dan bisa diambil. Artikel tentang pembuatan Visa Jepang menyusul karena banyaknya pertanyaan yang muncul dari pemohon yang pertama kali membuat visa supaya bisa jadi acuan dan tidak membingungkan.

Setelah visa keluar maka kami segera menukarkan mata uang ringgit serta Yen dan memesan akomodasi penginapan via airbnb. Kenapa kami tidak memesan hotel di Jepang? Karena kamar hotel yang kami mau pesan dalam waktu kurang dari sebulan sudah full (non smoking, kamar mandi dalam dan lokasi dekat stasiun kereta). Akhirnya kami memesan ruang di Apartemen Kyoto selama 7 hari dan di Osaka 7 hari juga. Pertimbangan hanya memesan 2 tempat karena di Jepang transportasi gampang dan kalau pindah – pindah malah akan repot. Juga memesan pocket Wifi, kami memutuskan menyewa karena masukan dari traveler lain bahwa wifi di Jepang sangat sulit, daripada liburan berantakan karena hal kecil maka lebih baik persiapkan sebelumnya. Wifi ini meskipun kecil tapi sangat penting.

Jangan lupa Web check in di website Airasia 14 hari menjelang keberangkatan untuk menghindari letak tempat duduk yang tidak diinginkan terutama bila bepergian lebih dari 1 orang.

Sebelum berangkat wajib mengecek suhu di kota yang akan dituju dan pertimbangkan suasana alam disana akan membuat lebih dingin/panas daripada disini. Sebetulnya kemarin lihat masih 20-23′ Celcius dikira sama seperti waktu di Cina yang adem jadi tidak bawa baju tebal, ternyata dugaan meleset, disana persiapan masuk musim gugur  udara yang lebih segar maka jauuh lebih dingin. Jadi sesuaikan barang bawaan terutama baju sesuai musim, jangan lupa bawa pelembab untuk muka, tubuh dan bibir karena perbedaan cuaca supaya tidak pecah – pecah.

KEBERANGKATAN

Dikarenakan pemesanan tiket dari jauh hari maka jadwal kami diubah berkali – kali oleh Airasia, keberangkatan tanggal 24 Okt yang seharusnya pukul 21.00 WIB  dimajukan menjadi 18.35 (penerbangan lanjutan jam 1 pagi waktu Kuala Lumpur menuju Bandara International ). Pukul 15.00 kami sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta, berhubung Airasia dipindahkan ke terminal 2 maka agak sedikit membingungkan, pintu masuknya tidak terlihat jelas bahkan bagian informasi juga meleset memberikan letak pintu masuknya. Akhirnya kami masuk dan ternyata itu adalah pintu untuk counter KLM dan Garuda, counter Airasia disebelah kanan berjarak 100m, sebetulnya kami sudah web check in dan print tapi karena kami memesan makanan setelah melakukan check in jadi supaya lebih aman kami mendatangi counternya, kertas print kami diganti boarding pass yang lebih keren hehehe. Setelah itu kami harus melewati imigrasi dan setelahnya masuk ke gate, berhubung masih lama jadi gate nya belum ada, ruang tunggu diluar gate sangat tidak nyaman tapi untungnya disediakan loker untuk charging hp yang cukup membantu. Mendekati pukul 17.30  belum ada tanda – tanda gate kami dibuka dan tidak lama kami dengar bahwa penerbangan didelay menjadi pukul 18.50, maka kami bergegas menuju gate yang baru saja dibuka, sebelumnya barang bawaan akan ditimbang dan diukur karena ada ketetapan mengenai barang bawaan yang boleh masuk kabin adalah 7kg (dengan toleransi kurang lebih 1 kg) dan ukuran koper 56x36x23cm, seingat saya dulu dus tidak boleh masuk ke kabin airasia kecuali dibungkus tapi saya tidak tahu lagi apa peraturan tersebut sudah dihapus atau belum. Setelah melewati pemeriksaan barang bawaan, kami tiba di gate dan diperiksa paspor beserta boarding passnya, mungkin untuk menghindari orang yang tidak berhak terbang lolos pemeriksaan, setelah lewat dari sini silakan simpan paspor anda dan hanya siapkan boarding pass, jangan lupa mengingat no tempat duduk karena kalau salah bisa repot pindahnya hehehe.

Pukul 18.50 kami sudah naik di pesawat dan mengantri untuk terbang, sekitar 18.55 kami sudah terbang. Beberapa kali delay menurut saya Airasia tidak terlalu parah maksimal 30 menit sudah terbang jadi masih bisa ditoleransi.

Hampir 1 jam terbang waktunya pembagian makan preorder hanya bagi yang sudah memesan via web sesuai jenis penerbangan maksimal 24 jam sebelum keberangkatan.  Keuntungannya selain harga lebih murah yaitu bisa mendapat makanan lebih dahulu dari penjualan offline dan variasi lebih banyak, di penerbangan QZ saya pesan Nasi Minyak Palembang, nasinya wangi, dagingnya lembut dan banyak, ditambah sambal nanas jadi semakin nagih. Untung pesan makanan via web karena di Bandara SoeTta tidak bisa makan dengan tenang waktu menunggu, dan pengalaman yang sebelumnya penjualan offline sering tidak kebagian makanan, kalau menunggu sampai di KL jam 9 malam tentu perut keburu keroncongan. Sisa 1 jam penerbangan saya mendengarkan musik dari hp yang flight mode. Sampai di Bandara KLIA2 pukul 22.00 waktu setempat (+1 jam dari Jakarta) dan proses keluar pesawat dll kurang lebih 30 menit lalu kami langsung mengisi botol air  melewati security check (scurity check untuk penerbangan transit ini diperbolehkan membawa air minum) dan naik menuju foodcourt dan memesan Yong Tau Fu untuk menghangatkan perut, 5 macam sayuran ditambah mie 16.5 ringgit cukup untuk mengisi perut berdua. Tips kalau bepergian ke luar negri, sering makan jangan sampai perut kosong supaya tidak masuk angin terutama kalau cuaca dingin.

Tidak terasa pukul 24.00 kami bergegas mencari gate untuk penerbangan kami dilayar dekat escalator turun, karena di Bandara KLIA2 ini sangat besar dan jangan sampai salah gate karena jaraknya berjauhan, misalnya Gate P dan Q itu ujung ke ujung, kalau waktu mepet dan mengantri maka tidak akan cukup waktunya.  Setelah menemukan gate yang kami tuju lalu mengantri untuk security check, disini tidak boleh ada cairan lebih dari 100ml jadi botol air lebih baik dikosongkan karena setelahnya bisa diisi kembali di keran sekitar gate. Setelah menunggu 1 jam akhirnya kami dipanggil untuk naik ke pesawat, kali ini penerbangan D7 dan setelah terbang lampu dipadamkan mungkin supaya penumpang bisa istirahat, sekitar pukul 3.00 tiba – tiba suami membangunkan karena waktunya pembagian makanan preorder, saya pesan Nasi Lemak Pak Passer sejenis nasi uduk tapi dagingnya mirip ayam rendang tapi sambelnya itu loh yang bikin enak, setelah makan kami tertidur dan terbangun waktu pejualan makanan dan merchandise. Pukul 4.00 karena tidak bisa tidur lagi saya melihat keluar, enaknya duduk didekat jendela adalah menikmati pemandangan. Sungguh luar biasa pemandangan ketika matahari mulai terbit.

Penumpang disebelah kami pun tergoda untuk memfoto pemandangan setelah melihat saya memfoto matahari terbit, saya menawarkan diri untuk memfotokan dari tempat saya, setelah melihat hasilnya sepertinya senang sekali.

Setelah itu kami tertidur lagi dan terbangun mendekati waktu landing untuk mengisi kertas yang dibagikan oleh pramugari. Akhirnya pukul 8.00 waktu setempat (+2 jam dari Jakarta) kami tiba di Kansai International Airport, sampai terharu waktu mau turun karena akhirnya berhasil sampai juga di Jepang.

Setelah turun dari pesawat kami dipersilakan jalan untuk masuk ke imigrasi yang jaraknya cukup jauh setelah pulang baru kami tahu kalau bandara dan imigrasinya berbeda area. Antrian imigrasi cukup panjang tetapi karena mereka memperhatikan efisiensi maka tidak terasa, hanya 15 menit saja kami sudah berhasil keluar, ternyata alamat apartemen yang kami copy dari email airbnb salah, untungnya petugas disana cukup membantu, kami buka email aslinya (menggunakan jaringan wifi Bandara) dan alamatnya ditulis ulang dan huruf Jepang lalu kami diperbolehkan melewati imigrasi. Jadi persiapkan email alamat tujuan untuk berjaga – jaga jika diperlukan.

Setelah itu kami naik ke lantai 2 menuju kantor pos untuk mengambil pocket Wifi yang sudah disewa sebelumnya, kami menyewa pocket wifi premium karena coverage area 100%, seperti biasa belum sah kalau belum mencoba toilet di airport, dikira sama seperti toilet lain dengan versi lebih bersih ternyata saya tercengang, toiletnya jauuuh lebih CANGGIH daripada yang saya kira. Toiletnya lain daripada yang lain, yaitu kloset otomatis dengan penghangat dudukan dan tombol untuk membilas dengan tombol stop, air bilasannya hangat dan bisa diatur kencang atau pelannya, untuk flush juga cukup menaruh tangan disensor tanpa perlu menekan (tapi model kloset berbeda tergantung area). Apalagi ada suara gemericik air untuk kenyamanan dan privasi. Ditambah antrian dari luar membuat waktu menunggu semakin pendek karena tidak perlu rebutan.

Sesudah mencoba dengan norak toilet airport, kami turun lagi menuju Tourist Information untuk membeli pass yang akan digunakan nantinya. Kami membeli Kansai Thru Pass 3 Days seharga 5200 yen, manfaatnya adalah bisa naik Bus, Tram, Subway, Train yang melayani area Kansai, jadi kalau mau bepergian jauh – jauh selama di Daerah Kansai (Osaka, Kyoto, Hyogo, Nara, Wakayama, Himeji, dll) bisa menggunakan kartu ini tanpa bayar kecuali kereta khusus. Ditambah kupon potongan harga di tempat wisata tertentu. Enaknya kartu ini tidak harus dipakai berurutan, yang penting 3 hari dalam waktu 6 bulan sejak kartu dibeli. Butuh atau tidaknya kartu ini tergantung dari initiary masing – masing dan tempat menginap, bisa dicek via google maps jarak dan biaya, apabila tidak mencapai 2000 yen/hari maka tidak perlu membeli kartu ini.

Apabila ingin menikmati Osaka dengan nyaman, bisa membeli Osaka Amazing Pass 1 day atau 2 Days, kami memilih 2 Days yang harus dipakai berurutan sejak tanggal pembelian tapi kami menunda pembelian sampai waktu tinggal di Osaka (minggu ke dua).

Akhirnya kami keluar dan menuju Stasiun kereta bandara untuk membeli ICOCA & Haruka. Di kantor JR kami harus naik tangga ke bagian penjualan tetapi bagasi bisa ditinggal dibawah dan disediakan loker gembok sehingga memudahkan kami. Bagian penjualan dilayani dalam 4 bahasa (Jepang, English, Korea dan Mandarin). Kartu ICOCA ini akan sangat berguna untuk perjalanan kereta JR karena mayoritas layanan yang terkenal adalah JR, selain itu bisa digunakan untuk berbelanja di combini (minimarket) dan untuk isi ulang bisa distasiun mana saja yang tersedia mesin topup. Haruka ada kereta semi Express (katanya sih semi Shinkansen), kalau membeli tiket Haruka dengan ICOCA bisa mendapatkan diskon 200 yen sekali jalan, jadi PP menghemat 400 yen, boleh pesan tiket PP dengan tujuan kombinasi misalnya kami memesan tiket KIX-Kyoto dan untuk kembali kami memesan OSAKA-KIX (keberangkatan Osaka hanya bisa dari Sta. Tennoji atau Shin Osaka, kami memilih Tennoji karena area kami tinggal nantinya dilewati Osaka Loopline ke Tennoji langsung). Harga ICOCA 2000 yen (termasuk 1500 saldo dan 500 yen deposit), Haruka PP 1600 yen + 1100 yen total 4.700 yen, desain untuk kartu ICOCA ada bermacam – macam, suami memilih sejenis platypus yang menjadi icon ICOCA dan saya memilih Hello Kitty.

FOTO Kartu ICOCA dan Tiket HARUKA

Kami diberitahu jadwal kereta dan bebas naik jam berapa pun sesuai tanggal di tiket. Setelah membayar kami turun kembali dan mengambil koper yang digembok lalu mencari gate masuk ke stasiun. Berbekal kartu ICOCA di tangan dan tiket Haruka, mulai bingung bagaimana cara pakainya karena ada lubang untuk memasukkan kartu dan ada area untuk tapping juga, sebetulnya di web sudah cukup jelas tapi tetap ragu akhirnya bertanya ke petugas ternyata benar harus dimasukkan nantinya akan keluar diujung gate tap in. Gate tap ini lebih panjang daripada di Jakarta dan tiketnya ternyata tiket magnetik yang bisa membaca data, setelah berhasil masuk, kami turun ke bawah menunggu kereta, disana sudah ada kereta tapi setelah dilihat keretanya bukan seperti yang di gambar, ternyata kereta datang menjelang jadwal dan segera berangkat sesuai jadwal..wuzzz…oalah..maklum biasa di Jakarta naik kereta harus dari beberapa waktu sebelumnya. Setelah kereta tersebut berangkat, 2 menit kemudian masuk kereta Haruka jurusan Kyoto, kami harus naik di gerbong 4-6 untuk non-reserved seat tapi karena penumpang tidak terlalu penuh ya jadinya nyaman pilih tempat duduk di gerbong. 3 Menit kemudian kereta kami mulai jalan dang melaju cukup kencang, kami kira itu sudah maksimal ternyata tersebut ketika melewati Osaka kecepatannya hanya 120km/jam setelahnya ketika menuju Kyoto semaik kencang sekitar 150-180km/jam, sangat kencang bagi kami yang terbiasa dengan Commuterline Jabodetabek =p

Pemandangan menuju Kyoto sangat cantik, meskipun sedikit hujan tapi tidak mengurangi antusias kami untuk menikmati pemandangan disana. Mulai dari bawah tanah, naik sejajar dengan tanah sampai berada diatas rel layang menyajikan pemandangan yang tidak biasa.

FOTO Pemandangan dari Kereta

Dalam waktu 53 menit kami sampai di Stasiun Kyoto untuk melanjutkan ke tempat kami menginap di daerah Hanazono yang hanya dilayani oleh JR, maka kami tanpa tapping out langsung pindah kereta lokal JR Kyoto, setelah 4 stasiun kami turun dan bertanya bagaimana proses tapping outnya, kami diarahkan ke mesin topup yang ada fitur assistan call, setelah disambungkan kami diberitahu bahwa kereta kami seharusanya sampai shaga-arashiyama bukan Stasiun Kyoto jadi kami diminta penyesuaian tarif dari tujuan seharusnya sampai stasiun tersebut dengan memasukkan koin 190 yen dan diberikan tiket magnetik kecil untuk tapping out. Akhirnya kami sampai di Stasiun JR Hanazono untuk menuju ke tempat kami menginap.

 

Note : Foto dan part berikutnya akan saya update segera.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *